Toko Pasutri

Minggu, 30 Desember 2012

Hei Remaja, Ini Cara Diet yang Benar dan Tepat


Tak jarang banyak remaja yang terobsesi ingin punya tubuh langsing tapi dengan cara yang salah, padahal mereka masih dalam tahap pertumbuhan. Untuk itu perhatikan cara-cara diet yang benar bagi remaja.

Remaja perlu banyak energi dan stamina agar bisa membuatnya tetap aktif berkegiatan. Tapi sayangnya makin banyak remaja yang obesitas akibat kurang makan sehat dan aktivitas fisik.

Kebanyakan dari mereka ingin menurunkan berat badan dengan cepat melalui diet ketat dan latihan keras, hal ini tentu dapat mempengaruhi tumbuh kembangnya. Berikut tips menurunkan berat badan yang tepat untuk remaja, seperti dikutip dari Indiavision, Rabu (19/12/2012) yaitu:

1. Mengontrol kebiasaan
Remaja seringkali melupakan kebiasaan baik dan menggantinya dengan pola baru yang dianggap bisa menurunkan berat badan, seperti melewatkan makan, konsumsi minuman olahraga, membiarkan tubuh puasa untuk waktu lama dan terlalu keras berolahraga.

Untuk itu orang tua perlu mengontrol kebiasaan yang dilakukan remajanya dengan memastikan konsumsi makanan yang cukup secara berkala, minum air putih yang banyak dan hindari minuman manis, soda atau cemilan tak sehat lainnya.

2. Biasakan membaca label makanan
Remaja dapat mengontrol asupan kalori dengan kebiasaan sederhana yaitu membaca label makanan, sehingga menghindari makanan yang berisi kalori kosong tanpa nutrisi. Para ahli kesehatan mengatakan remaja harus mengonsumsi sekitar 2.000 kalori per hari, serta hindari makanan yang dipanggang, digoreng dan susu full cream saat diet.

3. Minum air yang cukup
Air putih adalah cairan yang harus dikonsumsi dengan cukup agar tubuh bisa bekerja optimal. Selain itu minum air putih yang cukup turut membantu mengeluarkan semua racun dari tubuh dan meningkatkan laju metabolisme. Pada akhirnya, metabolisme yang meningkatkan ini ikut membantu proses penurunan berat badan.

4. Jangan lupakan sarapan
Sarapan adalah bagian penting karena meningkatkan laju metabolisme dan membuat seseorang tetap aktif sepanjang hari. Studi menunjukkan orang yang sarapan akan lebih banyak menurunkan berat badan ketimbang yang tidak. Cobalah mengonsumsi serat dan protein, seperti sereal, susu, telur dan sandwich dengan roti gandum.

5. Mengontrol porsi makan
Langkah terakhir untuk mewujudkan makan sehat adalah mengontrol porsi makannya, karena mengontrol porsi makan juga turut membatasi asupan kalori yang masuk sehingga tidak berlebih dan menumpuk jadi lemak.

6. Biasakan makan di rumah
Remaja cenderung lebih suka makan di luar yang meningkatkan kemungkinan asupan kalori lebih banyak. Jadi cobalah lebih sering makan di rumah dan membatasi makan di luar sehingga asupan kalori terkontrol, lalu lihat perbedaannya dalam beberapa hari.

7. Olahraga
Para ahli menyarankan lakukan aktivitas fisik selama 1 jam sehari-hari cukup membantu remaja mencapai berat badan yang diinginkannya. Olahraga yang bisa dilakukan antara lain berenang, menari, sepeda, berjalan atau lari.

Sebaiknya pilihlah olahraga atau aktivitas yang disukai, serta tak ada salahnya menggabungkan 2 kegiatan atau lebih dan mengubahnya setiap minggu agar tidak monoton. Carilah cara untuk menjadi aktif dan bergerak selalu, misalnya menari bersama teman-teman atau membersihkan kamar sesekali. Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sabtu, 29 Desember 2012

Berat Badan Naik Lagi Setelah Diet Tingkatkan Risiko Diabetes & Jantung


Ketika Anda telah berhasil menurunkan beberapa badan hingga beberapa kilogram, jagalah berat badan Anda agar tidak kembali naik. Peningkatan kembali berat badan setelah sukses melakukan diet tidak hanya menggagalkan usah keras Anda, tetapi dapat membahayakan jantung serta rentan terhadap diabetes.

Kebanyakan orang hanya gigih dalam usaha penurunan berat badannya saja, tetapi melupakan pemeliharaan berat badan. Meningkatnya berat badan kembali setelah Anda mencapai berat badan yang diinginkan, akan meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung.

Peneliti melakukan studi terhadap 100 wanita pasca-menopause yang mengalami obesitas. Semua peserta terlibat dalam program penurunan berat badan yang dijalani selama 5 bulan dan rata-rata dapat menurunkan berat badan hingga 12 kg. Setelah itu, para peneliti terus memantau peserta selama setahun.

Setahun kemudian, sekitar 2/3 dari peserta mengalami peningkatan berat badan kembali setidaknya sebanyak 4 kg. Rata-rata, para peserta mendapatkan berat badannya kembali hingga 70 persen dari berat badan sebelumnya.

"Masalah muncul ketika berat badan peserta kembali naik, yaitu tingkat risiko diabetes dan gangguan pada jantung meningkat. Sementara itu, perempuan yang dapat mempertahankan berat badannya hingga setahun kemudian, tercatat memiliki risiko diabetes dan penyakit jantung yang lebih rendah," kata Daniel Beavers, pemimpin utama penelitian tersebut.

Studi ini juga menemukan bahwa meski seseorang mendapatkan berat badannya kembali sedikitnya 2,5 kg saja, dirinya telah mengembangkan risiko gangguan kardiometabolik, terutama bagi wanita menopause.

Penelitian ini menyoroti betapa pentingnya manjaga berat badan agar tetap ideal tanpa melakukan diet penurunan berat badan yang cukup ketat. Seseorang harus mulai mengadopsi hidup sehat sejak dini agar dirinya tidak perlu bersusah payah menurunkan berat badan di usia tua.

Peneliti menyarankan untuk memulai gaya hidup sehat secara perlahan-lahan, seperti menghindari konsumsi soda, memperbanyak konsumsi sayuran dan menyimpan catatan makanan sehari-hari agar Anda dapat mengontrol seberapa banyak kalori yang Anda makan per harinya.

Studi ini dipublikasikan dalam Journal of Gerontology: Biomedical Sciences, seperti dikutip dari Medical Daily Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 28 Desember 2012

Wow, Berat Badan Turun 110 Kg Karena Kaget Lihat Foto di Facebook


Ketika sang ibu didiagnosis Multiple sclerosis dan akhirnya meninggal dunia, Matthew Briggs melampiaskan rasa stres dan kenyamanannya dengan makanan. Hal ini tentu saja membuat berat badannya terus meningkat.

Selama 10 tahun setelah ibunya meninggal dunia, berat badannya terus bertambah. Meski dokter telah menyarankan Matthew untuk mengurangi jumlah makanannya terutama lemak.

Hingga akhirnya pada tahun 2009 setelah kembali dari pesta Natal, ibu tirinya mengupload foto di Facebook dan ia terpana dengan gambar dirinya yang ternyata ukuran tubuhnya 2 kali lipat dibanding sang ayah.

Pada saat itu pula ayahnya menanyakan pertanyaan sederhana "Apakah kamu bahagia?". Dari situ ia mengakui bahwa dirinya tidak bahagia dan ia ingin sekali mengubah bentuk tubuhnya menjadi lebih baik.

Ketika itu ibu tirinya menawarkan ia untuk ikut menjadi anggota Slimming World. Walau awalnya ia sempat merasa sedikit skeptis dengan program tersebut, tapi ia tetap mau mencobanya.

Matthew pun mulai mengatur pola makannya dengan mengurangi makanan berlemak dan berusaha membuat sendiri makanan yang akan dikonsumsinya. Pada satu bulan pertama ia berhasil menurunkan berat badan sebanyak 6,75 kg.

Kondisi ini semakin memicunya untuk semangat memasak dan menghidangkan sendiri semua makanannya, seperti membuat kari ayam sendiri dan juga mengonsumsi camilan buah segar sepanjang hari.

Sedangkan untuk tingkatkan energi tubuhnya, Matthew melakukan lari secara rutin bahkan hingga mengikuti maraton dan mulai rajin serta menikmati olahraga di pusat kebugaran.

Ternyata usaha yang dilakukan oleh Matthew ini tidaklah sia-sia, berkat mengubah pola makan dan juga olahraga secara rutin ia berhasil menurunkan berat badannya sebanyak 110 kg. Kini dengan tinggi badan 188 cm, ia memiliki bobot tubuh 85 kg.

Matthew (30 tahun) menyadari bahwa ini adalah awal yang baru untuk dirinya, dan ia harus mampu mempertahankan berat badan idealnya. Kini beberapa temannya pun sempat pangling dengan penampilan baru Matthew.
Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kamis, 27 Desember 2012

Cara Orang Mengingat Makanan Bisa Mempengaruhi Berat Badan


Berat badan seseorang umumnya dikaitkan dengan porsi makan yang dikonsumsinya. Namun ada hal lain yang mempengaruhinya, yakni bagaimana cara orang tersebut mengingat makanan. Penelitian membuktikan, ingatan mempengaruhi berat badan.

Tidak salah jika dikatakan bahwa berat badan ditentukan salah satunya oleh porsi makan. Hanya saja, belum banyak penelitian yang membuktikan bahwa porsi makan seseorang juga dipengaruhi oleh cara otak mengingat-ingat porsi makan sebelumnya.

Penelitian di university of Bristol membuktikannya pada sekitar 100 partisipan yang diminta menyantap semangkuk sup sambil diamati. Sebagian mendapat porsi lebih dengan mangkuk besar, sebagian porsi kecil dan sebagian lagi mendapat porsi sedang.

Tanpa sepengetahuan partisipan, sebagian mangkuk punya saluran khusus yang memungkinkan para ilmuwan untuk diam-diam menambahkan sup. Jadi meski sebenarnya ada yang memakan 1,5 porsi, para partisipan hanya mengingat bahwa yang dimakan tetap porsi normal.

Perbedaan antara ingatan dengan porsi sesungguhnya itulah yang mempengaruhi kemunculan rasa lapar pada jadwal makan berikutnya. Partisipan yang sama-sama mengonsumsi porsi kecil mulai lapar pada saat yang sama meski ada sebagian yang sebenarnya sudah makan 1,5 porsi.

"Ingatan memainkan peran penting dalam memunculkan rasa lapar, terpisah dari sinyal fisiologis yang dikirim perut ke otak," tulis para peneliti dalam kesimpulannya seperti dikutip dari The Atlantic, Kamis (13/12/2012).

Persepsi tentang porsi makan, baik yang dipengaruhi oleh pikiran maupun rangsang visual secara langsung sejak lama diketahui sebagai penentu keberhasilan diet. Berbagai cara telah dilakukan untuk membuat orang merasa makan lebih banyak sehingga tidak cepat lapar, misalnya dengan memodifikasi bentuk dan corak alat makan.

Apabila seseorang merasa telah makan lebih banyak dari yang sebenarnya, maka perut cenderung tidak cepat lapar. Makin sedikit asupan kalori yang masuk, maka risiko kegemukan akan lebih mudah dihindari Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Rabu, 26 Desember 2012

Pangkas Berat Badan 31,5 Kg Karena Tak Bisa Menikmati Hidup Akibat Obesitas


Elise Huffman merasa beruntung memiliki suami yang baik dan 2 anak yang sehat. Tapi ia tidak bisa sepenuhnya menikmati hidup karena obesitas yang dialami membuatnya sulit beraktivitas dan tidak percaya diri.

Obesitas yang dimiliki Elise berawal karena ia tidak pernah melakukan sarapan dam seringkali makan 1-2 kali di sore hari dan ketika sudah larut malam. Selain itu ketika merasa kesepian atau stres maka ia melampiaskannya pada makanan.

Ia pun mengaku sangat kecanduan minuman soda, Elise bisa minum 4-6 kaleng soda setiap hari yang dikombinasikan dengan keripik atau cokelat. Tak ayal kondisi ini membuat berat badannya meningkat dan terjebak dalam pola hidup tidak sehat.

Sampai akhirnya Elise mulai merasa putus asa dan mencoba menurunkan berat badannya. Meski ia pernah berkali-kali gagal, namun ia tetap mencoba dan berusaha mendapatkan cara yang tepat untuk berhasil.

Hal pertama yang ia lakukan adalah makan sarapan setiap hari dengan teratur, ia makan 5-6 porsi kecil sepanjang hari yang terdiri dari semua jenis kelompok makanan termasuk biji-bijian, protein tanpa lemak, sayuran hijau, buah, kacang-kacangan dan sedikit susu.

Setelah menjalani pola makan sehat selama beberapa minggu, Elise mulai berjalan kaki 4-5 km setiap hari. Meskipun hal tersebut awalnya berat dilakukan, tapi ia berusaha mempertahankannya.

Semangatnya untuk tetap aktif jadi meningkat ketika sang suami dan kedua buah hatinya ikut bergabung untuk berolahraga bersama. Hal yang paling istimewa adalah ketika ia dan keluarga berhasil finish bersama dalam acara Run 5K dalam Thanksgiving Day 2011.

Perubahan pola hidup yang dijalaninya memberikan transformasi berbeda pada fisik, emosional, mental dan spiritualnya. Elise memiliki lebih banyak otot ketimbang lemak dan lebih merasa sukacita dalam menjalani hidup.

Hal yang paling membahagikannya adalah di usia 42 tahun ia berhasil menurunkan berat badan hingga 31,5 kg. Jika dulu dengan tinggi badan 160 cm ia memiliki bobot tubuh 97,6 kg, kini berat badannya menjadi 66,1 kg. Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Selasa, 25 Desember 2012

Tersiksa Karena Obesitas, Haykel Berhasil Turunkan Berat Badan 51 Kg


Haykel tahu betul bagaimana rasanya memiliki bobot tubuh berlebih hingga obesitas. Dengan tinggi badan 167 cm ia memiliki bobot tubuh mencapai 125 kg. Kondisi ini membuat kakinya sangat sakit.

Obesitas yang dialami Haykel membuatnya harus mencari celana dengan ukuran hingga 46 dan baju XXXL atau bahkan yang big size. Namun hal yang paling menyiksa adalah kakinya terasa sakit karena terlalu berat menahan beban tubuhnya.

Haykel sendiri sebenarnya sudah terbiasa gym, ia bisa olahraga 3 jam untuk kardio dan beban 2 jam. Tapi semua itu terasa sia-sia karena tidak ada hasilnya akibat pola makan yang salah total. Ia bisa mengonsumsi 5.000-6.000 kalori setiap hari dan banyak makan junk food, daging merah, keju olahan, serta makanan lain yang tinggi kalori dan lemak.

Haykel pun akhirnya berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi untuk membantunya menurunkan berat badan. Dokter membatasi asupan kalori dalam sehari hanya 1.500 dan 1 minggu kemudian turun lagi menjadi 1.200 kalori per hari.

Pola diet yang diberikan untuk Haykel ini dengan cara mengonsumsi sedikit karbohidrat, makan protein lebih tinggi seperti dari putih telur, daging ayam tanpa kulit dan ikan, serta sayuran dan buah-buahan. Tak lupa ia juga menggabungkannya dengan olahraga secara teratur dan benar.

Olahraga yang dilakukan dimulai dengan kardio selama 10 menit sebagai pemanasan, lalu dilanjutkan dengan olahraga beban untuk melatih otot punggung, dada, tangan, bahu, perut bagian atas dan bawah, serta otot kaki. Setelah selesai ia melakukan kardio lagi selama 30 menit.

Diet yang dimulai sejak April 2010 ini mendapatkan hasil, rata-rata penurunan berat badannya sebanyak 2-3 kg per minggu. Haykel pun semakin termotivasi untuk menurunkan berat badannya karena banyak orang yang menyepelekan dan mengganggapnya remeh.

Latihan kardio yang dilakukan meliputi treadmill dan sepeda statis. Namun saat dalam kondisi overweight atau obesitas, lebih aman menggunakan sepeda statis karena jika treadmill khawatir merusak persendian di lutut dan pergelangan mata kaki. Jika berat badan sudah mendekati normal bisa lakukan treadmill.

Setelah berjuang hampir 10 bulan lebih yaitu sampai Februari 2011, Haykel (29 tahun) berhasil menurunkan berat badannya sebanyak 51 kg. Kini ia memiliki bobot tubuh 74 kg.

Dengan postur tubuhnya yang baru, ia merasa hidupnya berubah 180 derajat, lebih fresh, tubuhnya jauh lebih ringan dan aktif dan ia merasa lebih dihargai. Serta ia senang bisa mempertahankan apa yang sudah diraihnya.

Haykel menyarankan bagi orang yang masih berkutat dengan obesitas dan ingin berubah maka perjuangkanlah diri sendiri, karena hanya diri sendiri terutama pola pikir yang bisa membantu. Hal ini didasarkan pada pengalamannya ketika menjadi penderita obesitas.]]x['cv,ty3 Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Ingin Panjang Umur dan Langsing? Lakukanlah Diet Ini


Untuk mencapai berat badan idealnya, banyak orang yang menggantungkan hidup pada diet yang banyak ragamnya itu. Namun baru-baru ini sebuah studi dari AS berhasil mengidentifikasi potensi lain dari sebuah diet khusus yang bernama diet ketogenik sebagai penunda proses penuaan.

Tim peneliti dari Gladstone Institute mengemukakan bahwa diet yang menekankan pola makan rendah kalori dan karbohidrat itu dapat memicu dihasilkannya sebuah senyawa yang memainkan peranan penting dalam menunda proses penuaan.

Jika konsentrasinya rendah, senyawa bernama beta-hydroxybutyrate (beta-OHB) atau 'ketone body' ini dapat membantu melindungi sel-sel tubuh dari stres oksidatif yang berkontribusi terhadap proses penuaan.

Stres oksidatif terjadi ketika sel-sel tubuh menggunakan oksigen untuk menghasilkan energi tapi disamping itu aktivitas ini juga mengakibatkan lepasnya molekul racun lainnya yang dikenal dengan radikal bebas.

Masalahnya ketika menua, sel-sel tubuh tak lagi efektif dalam membersihkan molekul-molekul radikal bebas ini sehingga mengakibatkan kerusakan sel, stres oksidatif dan dampak penuaan. Namun peneliti menemukan bahwa beta-OHB benar-benar mampu membantu menunda proses ini.

"Kami menemukan bahwa beta-OHB, salah satu sumber energi utama tubuh ketika berolahraga atau berpuasa, dapat menghambat terbentuknya enzim yang mendorong munculnya 'stres oksidatif' dan melindungi sel-sel dari penuaan," tandas peneliti Eric Verdin seperti dikutip dari zeenews, Senin (10/12/2012).

Temuan ini diperoleh tim peneliti setelah melewati serangkaian percobaan yang melibatkan sejumlah partisipan yang diminta melakukan diet pembatasan kalori kronis. Dari situ terlihat bahwa pembatasan kalori ini memicu produksi beta-OHB yang dapat menghambat aktivitas sekelompok enzim yang disebut histone deacetylase atau HDAC.

Usut punya usut, ternyata secara normal keberadaan HDAC ini 'berfungsi' mematikan sepasang gen yang bernama Foxo3a dan Mt2. Tapi dengan meningkatnya kadar beta-OHB, senyawa ini dapat menghambat HDAC melakukan hal itu atau dengan kata lain sepasang gen tadi akhirnya menjadi aktif. Padahal sekali diaktifkan, keduanya dapat memulai sebuah aktivitas untuk membantu sel tubuh melawan kepungan stres oksidatif.

"Terobosan ini juga memperluas pemahaman kita tentang mekanisme di balik HDAC yang telah lama diketahui keterlibatannya dalam proses penuaan dan berbagai penyakit neurologis seperti Alzheimer, Parkinson, autisme dan penyakit akibat cedera otak traumatis yang selama ini hanya memiliki sedikit alternatif pengobatan," timpal peneliti lain, Katerina Akassoglou.

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Science. Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Diet Sehat. Info Seputar Ibu Hamil, Anak, Bayi dan Balita...